Denpasar-Mutasi adalah keniscayaan bagi setiap prajurit. Namun ada perpisahan yang meninggalkan ruang kosong lebih dari sekadar kursi jabatan. Itulah yang dirasakan Denpasar hari ini saat melepas Letkol Cpm Gusti Crisna Putra, S.H.

Sebagai Dandenpom IX/3 Denpasar Kodam IX/Udayana, namanya identik dengan dua kata: tegas dan berwibawa. Di barak, disiplin adalah harga mati. Aturan ditegakkan, loyalitas ditempa, kehormatan korps dijaga. Anak buahnya paham, di balik komando tanpa kompromi itu tersimpan tekad membentuk prajurit yang tangguh dan bermartabat.

Di luar gerbang asrama, ia menampilkan wajah lain TNI. Wajah yang merangkul tanpa sekat. Ia duduk sama rendah di pura bersama pemangku, mendengar keluh pedagang di pasar, menyapa anak muda di banjar. Bagi Letkol Cpm Gusti Crisna Putra, seragam loreng bukan pembatas, melainkan jembatan.

“Tidak ada rakyat, tidak ada TNI. Kita sama-sama penjaga Bali, ” prinsip itu yang selalu ia tanamkan kepada anggota.

Karena itu kepergiannya terasa. Ia bukan sekadar komandan yang pindah tugas. Ia adalah bapak bagi prajurit, sahabat bagi masyarakat, dan pemersatu di tengah perbedaan.

“Beliau galak kalau kami salah, tapi paling depan pasang badan kalau anggota kena masalah. Itu yang bikin kami hormat, ” ungkap salah satu anggota Denpom IX/3.

“Pak Danden tidak pernah lihat kasta atau jabatan. Kalau ke banjar, beliau mau duduk lesehan, makan nasi jinggo bareng. TNI jadi terasa dekat, ” ujar seorang tokoh masyarakat.

Inilah karma baik yang ia tanam selama bertugas di Bali. Ketulusan yang ditebar, kebaikan yang dituai dalam bentuk cinta prajurit dan doa masyarakat.

Hari ini tugas negara memanggilnya ke medan bakti yang baru. Kami melepas dengan hormat, bukan melupakan. Mutasi hanya memindah raga. Keteladanan bahwa ketegasan dan kerendahan hati bisa berjalan beriringan akan tetap tinggal di Denpasar.
Selamat bertugas di tempat baru, Komandan. Denpasar bangga pernah dipimpin olehmu. Karma baikmu telah menetap, doa kami mengiringi setiap langkahmu.

Ani a